Tipe-Tipe Cintanya Aktifis
25/10/2010 1 Komentar
Sebelumnnya saya mohon maaf kepada siapapun dari antum pembaca yang merasakan bahwa tulisan saya ini dianggap kontroversial. Perlu anda ketahui bahwa saya tidak dapat menyembunyikan sebuah ilmu begitu saja. Karena sesungguhnya Allah tidak suka dengan orang yang menyembunyikan ilmu. Dan ini adalah ilmu. Afwan……..
Sesungguhnya aktifis adalah manusia juga. Tidak ada yang tidak sepakat dengan statemen ini, di antara kita. Sebagai seorang manusia, tentunya seorang aktifs juga mempunyai sifat-sifat yang dimiliki manusia pada umumnya. Rasa lapar, rasa haus, pingin tidur jika sudah ngantuk, pingin berkelompok dsb. Dan pada bahasan kita kali ini adalah sifat kasih sayang. Utamanya adalah kasih sayang kepada lawan jenis.
Sesungguhnya kita ini(manusia) telah dianugerahi oleh Allah dengan sifat kasih sayang yang besar. Dalam Al Quran disebutkan tentang konsep hubungan mawaddah wa rohmah dalam kehidupan berumah tangga. Artinya adalah cinta dan kasih sayang. Cinta berhubungan dengan nafsu syahwat, sedangkan kasih sayang adalah cinta yang benar-benar tulus tanpa ada embel-embel nafsu sesaat.
Dalam koridor hubungan antar manusia yang melibatkan antara 2 jenis manusia yakni laki-laki dan perempuan, banyak sekali variasi-variasi yang dimunculkannya. Dan berikut akan kami sampaikan beberapa hasil studi saya tentang hubungan-hubungan itu. Tentunya dalam kaitannya dengan rasa suka antara lain jenis.
1. Hubungan umum.
Ketika seorang ikhwan bertemu dengan seorang akhwat(entah itu di jalan, di toko, di kampus, di masijid dll) maka secara spontan akan timbul rasa saling tertarik. Ngaku apa ngaku hayo? Dalam konteks keduanya tidak saling mengenal. Apalagi jika salah satu atau salah duanya secara fisik mempunyai kelebihan.
Tanda-tanda yang muncul pada ikhwan biasanya berusaha mengesankan diri sok jaim(jaga image) sambil sekali-kali curi-curi pandang. Berusaha mengimagekan diri bahwa dirinya adalah seorang akh. Sedangkan pada akhwat biasanya tanda-tandanya adalah menunduk-nunduk, meski kadang kepergok juga sebelum ketemu dia sudah tidak menunduk duluan. Kadang juga sambil membenahi kerudungnya(ini adalah bahasa tubuh, red).
Biasanya hal ini terjadi secara selintas saja. Sesudah itu tidak ada interaksi lanjutan, karena belum saling kenal. Dalam hal ini Allah memberi rambu-rambu untuk saling menjaga pandangan. Dan saya kira kedua ikhwan akhwat tadi sudah melakukannya.
2. Hubungan klasik.
Saya menyebutnya demikian karena kakek nenek kita dulu juga ada yang melakukannya meski dalam konteks yang lain. Contoh : Seorang ikhwan menyukai seseorang akhwat teman satu Lembaga Dakwahnya. Karena namanya kebutuhan, dia tidak bisa menahan untuk tidak mengungkapkan rasa cintanya itu. Dan hebatnya, si akhwatpun mengiyakan saja. Sebagai pembenaran, merujuk pada hadits Rasulullah bahwa jika mencintai saudaramu maka ungkapkanlah.
“Karena Hadits ini bersifat umum maka boleh-boleh saja saya ungkapkan cinta saya kepadanya”, dalihnya.
Sesudah fase ini ada komitmen di antara keduanya untuk menikah suatu saat nanti ketika sudah siap. Biasanya ketika sudah lulus kuliah. Untuk sementara sesudah ada kejelasan ini biasanya pula mereka juga berkomitmen untuk tidak terlalu banyak berhubungan dulu dan saling ketemu, maksudnya adalah untuk menghindari zina hati.
Jadi semacam ikatan hati tanpa interaksi fisik/suara. Dengan adanya komitmen ini menjadikan keduanya menjadi lebih tenang dalam studi. Namun (namanya juga manusia, red) kadang masih saja ada dorongan untuk saling berinteraksi di antara mereka. Biasanya kemudian salah satu diantara mereka itu berusaha mengingatkan satunya. Maka selesailah.
Meskipun sampai saat ini saya tidak sepakat dengan ikatan hati di luar pernikahan, akan tetapi saya menghargai mereka yang berpendapat bahwa hubungan semacam ini adalah boleh. Karena dalil kongkrit saya belum menemukan. Sehingga saya tidak akan mengklaim bahwa hubungan ini adalah haram. Cuma hati-hati aja.
3. Hubungan bebas.
Adalah terjadi manakala seorang ikhwan atau akhwat yang ragu-ragu. Sebenarnya dari dalam jiwanya yang dalam sudah ada keinginan yang menggebu-nggebu untuk menyegerakan nikah. Tetapi masih saja ada perasaan tidak berani dalam dirinya. Entah itu karena kuliah, orang tua yang tidak setuju, belum punya penghasilan, bahkan sampai ketakutan-ketakutan tidak akan mampu nantinya mengurus anak.
Biasanya pelampiasannya adalah dengan cara berusaha menggodai lawan jenisnya. Entah itu dengan sms, telpon, bahkan interaksi langsung. Kadang sesuatu yang tidak perlu dipaksa-paksakan demi mendapatkan kesempatan interaksi dengan lawan jenisnya itu{ukhti atau akhi). Siapapun dia.
Jika si ikhwah ini belum ada kemantapan hati terhadap seorang ukhti atau akhi, maka biasanya dia banyak koneksi dengan akh atau ukh. Lalu berusaha menebar harapan di mana-mana. Tetapi jika dia sudah ada kemantapan dengan seorang akh atau ukh, akibatnya bisa bahaya jika tetap saja ada keraguan dalam hatinya untuk menuju pernikahan.
Dalam konteks ini dalam paradigma kita berkembang konsep jagalah hati. Meski saya masih saja bertanya-tanya jaga hati yang bagaimana ya? Bagi saya adalah konsep yang terlalu abstrak. Tergantung persepsi masing-masing.
4. Hubungan khusus.
Terjadi jika ada dua orang ikhwan dan akhwat yang saling menyukai. Keduanya akan saling berusaha untuk menghubungi. Entah itu melalui sms, email, telpon, bahkan hubungan ketemu langsung. Memanjang-manjangkan sms, berlama-lama telpon dan seribu satu macam jalan lagi. Meskipun bukan satu lini dalam kelembagaan, hubungan di antara mereka selalu diada-adakan. Entah itu alasannya untuk membahas bisnis, kuliah(meski lain jurusan), masalah keluarga, bahkan curhat pribadi.
Ironisnya hubungan mereka terus berlanjut meskipun periode kepengurusan mereka habis dalam Lembaga itu. Sehingga hubungan mereka itu tercium orang lain karena meski lain lini kelembagaan dan sudah selesai masa kepengurusan, kok terus-terusan interaksi, sedang yang dibicarakan adalah masalah-masalah yang tidak perlu dengan ikhwan atau akhwat itu dalam membicarakannya.
Kasus yang mirip adalah kasus cinta monyet di SMU dulu. Yang jika kebetulan suka sama temannya, maka pura-pura pinjam buku. Ya…hanya demi menciptakan urusan dengan si dia. Bukankah pinjam buku bisa kepada yang lain?
Sebenarnya di antara mereka sudah tahu bahwa mereka saling menyukai. Akan tetapi karena merasa masih ada beban kuliah, mereka tidak berani untuk mengajak nikah. Apalagi yang orang tuanya killer. Wadow…tantangan berat man…..
Jika sudah ada pengungkapan cinta di antara mereka, maka ini bisa berbahaya akibatnya. Bisa menjadi hubungan klasik, atau bahkan bisa menjadi sebuah pacaran, karena begitu kuatnya cinta di antara mereka. Menanggapi hal ini saya menghimbau kepada siapapun itu untuk segera mengambil kejelasan masa depan anda berdua. Siap-siap saja untuk segera melamar, langsung menikah, atau putuskan saja(emang pernah nyambung?). Allah yang lebih berhak untuk kita cintai.
5. Hubungan bebas berteman.
Jika hubungan antara ikhwan dan akhwat yang tidak ada muatan rasa cinta antar mereka. Ciri-cirinya adalah jika temannya itu dekat dengan ikhwan atau akhwat lain salah satunya tidak cemburu. Kalau ngomong di antar mereka seakan tidak ada beban, meski yang dibicarakan adalah yang menjurus-jurus. Ada juga yang sampai saling curhat di antara mereka dengan tema akh atau ukh yang disukai masing-masing. (Gile bener, kayak sinetron aja, red)
Hubungan ini menurut saya sehat-sehat saja selama koridor syar’i dijaga. Ex : tidak berduaan di tempat sepi, tidak menganggap adik atau kakak, ijin istri atau suami jika salah satu atau salah duanya sudah menikah, tidak terlalu banyak curhat dll.
6. Hubugan pacaran.
Saya katakan demikian karena mereka berdua tidak bisa menjaga hati dan jiwa mereka lagi dalam hubungan itu. Bahkan tidak juga merasa berarti terhadap pengawasan Allah. Tetap saja saling interaksi meskipun sudah diingatkan. Meskipun tidak pernah bertemu, masih saja di antara mereka ada interaksi baik via sms maupun telpon.
Apa ada yang berani menjamin bahwa di antara kawat terlpon itu tidak bergelantungan setan-setan. Apakah ada yang berani menjamin bahwa di antara gelombang mikro sms itu tidak tercampur dengan setan-setan jahanam itu.
Pernah dulu ada salah sepasang Pengurus sebuah LDK di Surabaya yang dikeluarkan dari Lembaganya itu gara-gara kepergok saling berpelukan di suatu tempat sunyi. Padahal mereka adalah ikhwan akhwat. Si ikhwan adalah pengurus middle, sedang si akhwat juga Pengurus yang berpenampilan jubah besar gitu. Na’udzubillah…..Mula-mulanya ya seperti ini hubungannya. Maka kami ingatkan kepada antum semua. Kuatkan iman. Jika memang sudah saling suka sama suka, denga iman yang kuat segeralah untuk menikah. Jangan cari gara-gara.
7. Hubungan biasa-biasa saja.
Adalah……. ya hubungan yang biasa-biasa saja. Tidak terlalu menjaga juga tidak terlalu menunduk-nunduk, juga tidak terlalu vulgar. Berinteraksi layaknya hubungan muamalah perdagangan saja. Interakasi ketika perlu, tidak ada tendensi lain. Tidak ada kepentingan maka tidak ada interaksi. Hubungan yang sehat.
8. Hubungan penjagaan yang luar biasa.
Terjadi pada seseorang yang sangat hanif. Dan dia melakukan ini tidak hanya di lingkungan Islami saja (Ex : masjid) akan tetapi dimanapun dia sangat menjaga.
Pernah ingat cerita seorang anak di SMU 5 dulu yang selalu menundukkan wajahnya ketika ada wanita di dekatnya. Suatu ketika dia digodai seorang cewek temannya. Di tepuk punggungnya dari belakang oleh cewek temannya itu.
Langsung keluar dari mulutnya istighfar, ”Ya Allah…ya Allah…ampuni dosaku…ampuni dosaku ….” Sambil langsung sujud di lantai. Luar biasa keimanannya…..
Dalam menikah, orang seperti ini sampai pingsan dua kali ketika malam pertama menemui istrinya. Alasannya simple, dia tidak pernah berinteraksi dengan wanita sebelumnya. Sehingga seakan isterinya adalah bidadari surga. Subhanallah. Betapa indahnya. Tidakkah antum ingin yang demikian?
Copas dari :
Neena Ummu Ifan.
http://www.facebook.com/topic.php?uid=69618179111&topic=14669
Syukron atas tausyoahnya